biografi farninda aditiya
BIOGRAFI FARNINDA ADITYA.
Farninda Aditya, M.Pd, atau Ninda sapaan akrab dosen Muda di IAIN Pontianak ini, saat diwawancarai mengatakan bahwa “kegiatan ini merupakan apresiasi dari karya mahasiswa. Karya tersebut adalah bagian dari tugas ujian akhir mata kuliah Bahasa Indonesia. Mahasiswa sejak 1 bulan sebelum UAS diberi waktu khusus untuk menulis, konsultasi, dan pendampingan langsung terkait produk buku. Saya menyebutnya tugas menulis buku 1 mahasiswa, 1 buku. Tidak mengherankan bisa berhasil 200 buku dari 5 kelas. Banyak cerita unik dalam penyelesainya, saya pun bisa mengenal mahasiswa lebih dekat baik dari tulisan maupun saat pengerjaan. Harapanya, karya yang dibuat hari ini diperbaiki sehingga dapat bermanfaat untuk berikutnya. Banyak kegiatan yang menjadikan karya tulis sebagai syarat. Apalagi menulis memang kebutuhan mahasiswa, tutur beliau ramah. Pertemuan perdana bersama mentor, mahasiswa peserta Rumah Literasi Fakuktas Ushuluddin Adab dab Dakwah membahas pentingnya Menulis di Buku Harian. Mahasiswa diminta untuk menulis kisah menarik yang terjadi dalam satu pekan di buku harian. Hal tersebut menjadi kesepakatan Tim Rumah Literasi sebagai bentuk tradisi menulis dalam kehidupan. Jumat, 20/9..Dimentori oleh Farninda Aditya, peserta diberikan penguatan tentang pentingnya menulis buku harian. Ninda menjelaskan bahwa menulis catatan harian, membuat penulisnya lebih berpikir positif. Setiap kejadian yang ditulis menjadi menarik untuk setiap penulis karena ada hal inspiratif yang mau dibagikan. "Menulis buku harian, menulis inspirasi, berarti membentuk paradigma positif untuk kehidupan", ujarnya. M.G. Harris kelas kelompok 4 Rumah Literasi yang terdiri dari mahasiswa Manajemen Dakwah memulai kegiatan menulis mengenai diri sendiri, yakni menulis tentang 5 tahun yang lalu, mengapa masuk di FUAD dan harapan 5 tahun yang akan datang. Pilihan tema tersebut lebih memudahkan peserta karena menulis dengan data yang sudah dimiliki.Nur Amaliah peserta yang terpilih sebagai penulis terbaik dan terbanyak pada pertemuan 1 ini, membagikan trik menulisnya."Saya menulisnya dengan rileks, saya fokus dengan yang saya tulis, saya juga menulis sesuai dengan yang saya pikirkan, pungkasnya.Di akhir pertemuan perdana kali ini, salah seorang peserta atas nama Nur Amaliah menerima hadiah buku sebagai bentuk apresiasi telah menulis sebanyak 6 halaman dalam waktu 1 jam Pertemuan perdana bersama mentor, mahasiswa peserta Rumah Literasi Fakuktas Ushuluddin Adab dab Dakwah membahas pentingnya Menulis di Buku Harian. Mahasiswa diminta untuk menulis kisah menarik yang terjadi dalam satu pekan di buku harian. Hal tersebut menjadi kesepakatan Tim Rumah Literasi sebagai bentuk tradisi menulis dalam kehidupan. Jumat, 20/9..Dimentori oleh Farninda Aditya, peserta diberikan penguatan tentang pentingnya menulis buku harian. Ninda menjelaskan bahwa menulis catatan harian, membuat penulisnya lebih berpikir positif. Setiap kejadian yang ditulis menjadi menarik untuk setiap penulis karena ada hal inspiratif yang mau dibagikan. "Menulis buku harian, menulis inspirasi, berarti membentuk paradigma positif untuk kehidupan", ujarnya. M.G. Harris kelas kelompok 4 Rumah Literasi yang terdiri dari mahasiswa Manajemen Dakwah memulai kegiatan menulis mengenai diri sendiri, yakni menulis tentang 5 tahun yang lalu, mengapa masuk di FUAD dan harapan 5 tahun yang akan datang. Pilihan tema tersebut lebih memudahkan peserta karena menulis dengan data yang sudah dimiliki.Nur Amaliah peserta yang terpilih sebagai penulis terbaik dan terbanyak pada pertemuan 1 ini, membagikan trik menulisnya."Saya menulisnya dengan rileks, saya fokus dengan yang saya tulis, saya juga menulis sesuai dengan yang saya pikirkan, pungkasnya.Di akhir pertemuan perdana kali ini, salah seorang peserta atas nama Nur Amaliah menerima hadiah buku sebagai bentuk apresiasi telah menulis sebanyak 6 halaman dalam waktu 1 jamkelas perdana di Tower C Gedung FUAD, Jumat, 20/9/19. Pada kegiatan ini mereka menulis biografi, tentang kelahiran, masa kecil, hobi, cita-cita dan pendidikan.Masing-masing pembimbing kelas, Elmansyah, Farninda Aditya, Mita Hairani, Novie Anggraeni, dan Saripaini mendampingi peserta menulis. Sebelum mulai menulis, untuk memudahkan peserta, pembimbing meminta peserta menceritakan tentang diri. Setelah semua peserta mendapat giliran bercerita barulah kemudian mereka menulisnya.“Tulislah sesuai dengan apa yang diceritakan tadi,” pesan Saripaini, salah satu pembimbing.Elmansyah mengungkapkan di kelasnya, peserta diminta menulis sebanyak 2000 kata dengan struktur dan jumlah tertentu bagi setiap struktur itu. Misalnya, bagian hereditas panjangnya 200 kata, bagian pendidikan 300 kata, dan seterusnyaTulisan peserta itu selanjutnya dikumpulkan dan dinilai. Tulisan terbaik mendapatkan hadiah buku.Kordinator Pembimbing, Yusriadi mengungkapkan tulisan-tulisan peserta itu selanjutnya akan diterbitkan. “Kita targetkan nanti ada launching sekaligus buku-buku yang dihasilkan dari program ini”.Kehadiran Rumah Literasi menurut Dekan FUAD Dr. Ismail Ruslan, merupakan unggulan FUAD, dimaksudkan untuk membangun kapasitas akademik mahasiswa. Selain itu. program ini dimaksudkan untuk mewujudkan visi misi FUAD.
Masih terasa, rasa senangnya. Meski sudah berhari-hari rasa senang itu pada menari-nari. Meski sudah lewat banyak waktu dalam hitungan jam. Tapi, rasanya masih belum bisa juga hilang rasa senang itu. Ya, saya senang. Senang karena 13 buku yang menjadi target anggota Club Menulis terwujud. Senang, karena launchingnya berhasil, senang juga warga kampus ikut serta dalam acara itu. Senang ini, tidak hanya sekedar senang saja, tetapi dibauri dengan rasa lega. Seperti hal-hal tadi, lega karena 13 buku yang menjadi target terwujud. Lega karena launching berhasil. Rasanya semua yang terwujud ini bukan hanya untuk kesenangan saja. Tetapi, ada tanggung jawab yang juga ikut dalam proses mewujudkan itu semua. Itulah yang saya rasakan. Sebagai anggota dalam suatu komunitas, yeng pekerjaannya memang bergelut dengan dunia kepenulisan yang menghasilkan karya tulis, dalam bentuk buku utamanya. Sebab itulah, saya juga mesti menyadari, keikutsertaan saya di komunitas ini memang harus menghasilkan karya. Itu komitmen yang sudah disepakati secara tidak langsung. Sudah ada dalam diri. Ikut komunitas yang begini mesti ada karyanya. Karya yang mengabadikan sejarah katanya. Karya yang menuangkan jutaan kalimat-kalimat. Jadi, wajar saja rasanya, ketika semua itu telah terpenuhi rasa lega pun menyeruak. Tanggung jawab sebagai anggota juga sudah saya penuhi. Satu pekerjaan sudah selesai. Jika diibaratkan hutang, hutangnya sudah dilunasi. Leganya pun pasti tak tanggung-tanggung. Tapi, tidak boleh disama-samakan dengan adanya beban. Atau dijalankan karena sudah terlanjur menjadi anggota, jadi mesti memenuhi tanggung jawab. Bagi saya semua ini dijalankan juga karena senang. Semua karena suka. Akhirnya saat karyanya benar-benar tercipta, setelah semua pekerjaan dikerjakan. Rasa, pikiran, tenaga dan waktu diberikan. Saya juga yang merasakan kesenangan itu. Berkarya itu, bukan untuk pertama dan terakhir. Bukan pula untuk mencari kepuasan. Tapi lebih pada mengartikan proses kehidupan . Tepatnya begitu .Semuanya juga terlihat senang. Teman-teman di Club, para undangan, Pembina, pembimbing, juga mereka yang ditulis. Termasuk Pak Soedarto yang mengusulkan kami untuk menulis profile pak Abror. Pak Darto bilang, dia senang karena ada wajah pak Abror di buku Club ini. Buku yang berjudul Abdurrachman Abror: Guru Semua Orang. Sesepuh STAIN ini pun, mengatakan bahwa ia akan memberi perhatian khusus pada Club. Senangya. Selain itu, saat kami mengudara di Radio Mujahidin, program I Love Book kalau tidak salah namanya. Mbak Ayu yang memandu juga terlihat takjub saat mendengar judul buku Eksotika Pontianak dan Geliat Ekonomi Pontianak. Mbak Ayu bilang, apakah launching ini ada hubungannya dengan Ulang Tahun Pontianak. Rasanya tidak berlebihan, saat itu saya menjawab kalau ini bisa dikatakan sebagai kado untuk Pontianak. Semoga Pak Wali jug senang.
Kita akan bertemu lagi di Minggu depan saya agung Wibisono undur diri Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu
See you the letter